Tag Archive | "2015"

Turkey Scholarship: You’ll Find the Way

Oleh Asma Hanifah.

“Kak, saya boleh minta kontaknya buat tanya-tanya?”
“Salam kenal kak, nama saya blablabla. Boleh tanya-tanya ga?”
“Kak, minta tips atau trik biar bisa keterima di YTB dong”
… dan lain-lainnya. Tidak satu dua kali aku memberi tahukan nama akun pribadi sosial mediaku kepada orang-orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Banyak sekali yang bertanya soal apa itu beasiswa YTB/Türkiye Bursları?, bagaimana cara mendaftar, apa saja yang harus dipersiapkan, dan pertanyaan serupa yang kemudian aku jawab dengan menyuruh mereka membaca informasi dasar itu di blog resmi Türkiye Bursları. Aku hanya akan menjawab penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin tidak dijelaskan mendetail di website. Tapi lebih sering lagi menjawab pertanyaan mengenai tips, dan ceritaku sehingga bisa menerima beasiswa penuh dari Türkiye Bursları.

Aku sudah sering menceritakan hal yang sama soal pengalaman terbesarku ini baik itu di Ask.fm, LINE, atau chatbox Instagram. Tapi aku akan menceritakannya juga disini.

Jadi aku berhasil mendaftar setelah tiga hari sejak hari pertama mencoba. Ya, ada-ada saja masalah yang muncul. Mulai dari aku dan Abi yang lupa untuk me-convert scanned documents ke file PDF, koneksi internet lelet, karena sesuatu dan lain hal membuatku harus ganti email, dokumen salah sehingga harus me-print ulang dan meminta tanda tangan kepala sekolah lagi, berulang kali menuliskan essay karena berulang kali terhapus (akhirnya aku kopas ke Ms. Word sehingga tidak harus ditulis ulang terus menerus), dan lain-lain. Dan masalah juga masih muncul di hari terakhir ketika akhirnya aku berhasil me-submit semua dataku.

Malam itu (14 Mei 2014), koneksi internet lancar, dan semua dokumen yang sudah lengkap juga berhasil diupload. Tapi entah kenapa aku tidak menemukan tombol ‘Submit’ di tahap terakhir. Selalu ada peringatan untuk mengulang beberapa tahap sebelumnya. Waktu itu aku memilih jurusan Teologi Islam. Abi sebenarnya kurang setuju dengan berpendapat, “sudah ke Turki sekalian aja jurusan umum”. Tapi aku masih bersikeras. Dan karena menghadapi masalah itu, aku akhirnya memutuskan untuk mengulang dari awal semuanya dan mengganti jurusan. Ketika aku sedang me-scroll down pilihan jurusan dan hampir memilih Hubungan Internasional, Abi melihat pilihan Jurnalistik dan langsung menyuruhku memilih itu. Aku sudah sangat lelah malam itu. Tanpa banyak komentar, aku pun menurut. Dan .. kami langsung bisa menemukan tombol ‘Submit’. Masyaallah. Entahlah, tapi malam itu terkesan magis bagiku. Ridho Allah benar berada pada ridho orang tua.

***
Hari-hari keesokannya, aku kembali disibukkan dengan kelas persiapan tes beasiswa Timur Tengah. Kembali berkutat dengan bahasa Arab dan hapalan Al-Qur’an. Sampai aku lupa untuk mengecek email.

Aku dan keempat temanku kembali ke Jakarta untuk tes tahap kedua untuk beasiswa Timur Tengah pada tanggal 15 Juni, kalau aku tidak salah. Kami kembali menginap di asrama mahasiswa. Hari ketika aku datang untuk melakukan tes, aku merasa benar-benar tidak enak badan. Aku merasa sangat sakit tapi tetap memaksakan diri untuk datang. Itu dikarenakan karena sehari sebelumnya, ketika baru tiba di asrama, aku dan Intania bukannya istirahat, malah berjalan-jalan ke sekitar asrama. Membeli makanan, dan lain-lain. Oh, ya. Hari itu kami memberi kebap Turki yang rasanya memang enak. Tapi setelah berangkat kesini, aku tahu kalau rasanya jauh berbeda dengan rasa kebab disini.

Tes kedua waktu itu adalah yang paling sulit buatku dengan kondisi badan yang sedang sangat tidak sehat. Pusing, aku bahkan hampir muntah. Terus memandang jam berharap semuanya cepat selesai.

Setelah menyelesaikan tes tulis dan lisan, aku terduduk di teras bangunan yang lain bersama guru pembimbing kami, menunggu yang lain. Hari itu hujan. Udara tidak dingin, tapi lebih dari cukup untuk membuatku merasa lebih buruk. Pulangnya ke asrama, aku langsung tertidur sampai mengigau. 😂

Pada tanggal 18 Juni 2014, satu hari setelah kembalinya kami dari Jakarta, kami diwisuda. Sungguh aku tidak merasa bahwa aku akan jadi alumni sekolah hari itu. Aku tidak akan meneruskan sekolah di pesantren itu lagi, itulah akhirnya, tapi aku bahkan baru tiba di gedung wisuda satu jam setelah acara dimulai. Aku bahkan meminjam flatshoes lama milik temanku. Aku bakan tidak menyetrika seragam wisudaku hari itu. Karena aku sibuk membantu Ummi yang waktu itu memiliki pesanan snack sampai seribu lebih. Walaupun ada yang membantu, tetap tidak tega melihat Ummi masih harus turun tangan dengan keadaan hamil 5 bulan.

Acara selesai pada pukul 12 siang, dan semua teman-temanku satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Dan aku baru mulai merasa sedih dan menangis sore harinya, ketika menyadari kamar kami sudah kosong. Hanya menyisakan kamar berantakan dengan dipan-dipan kosong. Aku pun dijemput Abi pulang sore itu.

19 Juni 2014, pukul 04.00 pagi, rumah kami heboh. Tidak ada kebakaran atau kemalingan. Aku tidak sengaja berinisiatif membuka email dan mendapatkan satu email yang ditunggu-tunggu sejak satu bulan yang lalu, email undangan wawancara di Kedutaan Besar Turki di Jakarta. Dan kalian tahu?, pada undangan itu tertulis kalau wawancaraku akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 14.30. 21 Juni 2014!, dan aku masih berada di Palembang, ratusan kilometer dari Jakarta dan masih belum tahu dimana tepatnya Kedubes itu berada. Maka siang itu, setelah mengambil beberapa dokumen lainnya di kantor, aku dan Abi berangkat. Menggunakan mobil, Abi sendiri yang menyetir karena kami belum pernah ke Jakarta menggunakan pesawat sebelumnya dan tidak tahu harus bagaimana setelah tiba. Siang, 19 Juni aku dan Abi berangkat ke Jakarta.

Tidak tega melihat Abi menyupir mobil sejauh itu, Palembang-Jakarta. Jadi aku bertekad lagi untuk melakukan semuanya semaksimal mungkin. Aku harus melakukan yang terbaik agar peluh dan lelahnya Abi, dan Ummi di rumah, tidak pernah sia-sia. Aku terus berdoa. Berdoa dan meyakinkan diriku kalau Allah pasti memberikan jalannya.

Kami menginap di rumah saudara di Depok, ya, lumayan jauh dari Jakarta, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Setelah beberapa jam tersesat karena mengambil jalan yang salah, kami akhirnya tiba tengah malam. Dan keesokan harinya, 21 Juni 2014, kami berangkat pada pada pukul 8 pagi agar bisa tiba di Kedubes tepat waktu.

Kami tiba satu jam lebih awal. Hari itu juga hujan, beberapa jalan tergenang air hingga lutut orang dewasa. Tapi aku tidak peduli, aku gemetaran, khawatir apa aku akan bisa melakukan wawancara dengan baik. Tanganku dingin, aku banyak diam di mobil walaupun dua adik sepupuku yang ikut mengantar benar-benar berisik.

Aku dianter ke depan gerbang karena mobil kami dilarang masuk. Abiku heboh sekali saat itu 😂. Setelah masuk pun, aku hanya diizinkan membawa berkas-berkas. Tas dan handphoneditinggalkan di pos satpam.

Aku ingat taman di tengah halaman. Tanamannya basah karena hujan. Sepi sekali hari itu. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku disuruh menunggu di dalam sebuah ruangan yang didalamnya sudah ada seorang gadis. Kami berkenalan, dan dia menceritakan persiapannya menghadapi wawancara hari itu. Persiapan? Aku?  aku tidak punya persiapan apa-apa. Hal yang berhubungan dengan bahasa Inggris yang aku lakukan sebelum wawancara hanyalah mendengarkan lagu bahasa Inggris sepanjang perjalanan. Dan, ya, membaca esaiku pada pendaftaran online.

Gadis itu bicara bahasa Inggris lancar sekali. Ya Allah, dia pasti lulus. Persiapan dia matang sekali, dan dia juga terlihat pintar. Bagaimana denganku?. Aku hanya berserah diri mengharapkan yang terbaik.

Giliran gadis itu dipanggil, aku memberinya semangat kepadanya yang tampak tegang. Dia berlalu meninggalkan aku sendirian di ruangan dingin dan sepi itu. Hanya ada aku dan pajangan foto Turki di dinding. Sampai akhirnya ada gadis lain yang datang. Tidak lama setelah kami berkenalan, giliranku dipanggil.
“Kamu pasti bisa, kok,” kata gadis itu. Tapi wajahnya masih terlihat tegang. Apa yang terjadi di ruangan itu?. Apa saja yang mereka tanyakan?. Kemudian dia memberitahuku ruangan mana yang harus aku tuju.

Ruangannya berada di gedung sebelah. Ada dua pintu, aku membuka salah satunya dan menemukan kalau keduanya mengarah satu ruangan yang sama. Setelah masuk, aku melihat banyak sofa dan meja. Ada jendela besar yang kalau tidak salah diluarnya terdapat sebuah kolam. Interior ruangan terlihat bagus walau lampu tidak dinyalakan. Hanya satu ruangan yang memiliki nyala lampu. Ruangan terbuka yang menjadi ruangan wawancara kami hari itu.

Ada tiga orang pria didalamnya yang menyambutku ketika aku masuk. Aku disuruh menyerahkan nilai ujian akhirku, dan mulai dilempari pertanyaan oleh pria ujung sebelah kiri. Aku disuruh mengenalkan diri, menceritakan kegiatanku di waktu luang, hobby, dan lain-lain. Entah kenapa semua kosakata bahasa Inggrisku seolah berlarian di kepala tapi susah dikeluarkan melalui mulut. Aku tegang. Apalagi pria yang berada di tengah hanya melihat ke arahku sambil menyatukan kedua tangannya dan meletakannya di depan mulut. Mungkin dia psikolog, memastikan apa aku memang yakin dan pantas untuk menerima beasiswa ini.

Aku banyak ditanya soal alasan memilih Turki, alasan memilih jurusan, apa aku mendaftar beasiswa di tempat lain, rencanaku ke depannya, dan lain-lain. Hanya sekitar 15 menit yang menjadi salah satu 15 menit paling lama dihidupku. Aku menjawab semuanya dengan apa adanya, berusaha terlihat santai dan yakin dengan jawaban-jawabanku. Hingga akhirnya aku merasa nyaman pada menit-menit terakhir karena pria tambun sebelah kanan tersenyum dan memberiku pertanyaan tambahan yang bisa dijawab pendek.

Dan saat-saat menegangkan itu pun berakhir. Aku keluar dari ruangan dengan sedikit merasa lega. Walau kecemasanku berganti, apa aku akan diterima?. Apa mereka menyukai jawaban-jawabanku?. Apa aku terlihat pantas diterima?. Dan pertanyaan-pertanyaan serupa yang baru aku dapatkan jawabannya satu bulan kemudian.

2 hari sebelum hari raya Idul Fitri.
5 hari sebelum hari ulang tahunku.
26 Juni 2014 pagi ketika aku (kembali) tidak sengaja membuka email dan mendapatkan email Kabul Mektubu, surat penerimaan yang menandakan kalau satu bangku kuliah di Turki sudah menjadi milikku. Alhamdulillah .. :'(

Hari-hari berat itu terbayar sudah. Aku bahagia sekali melihat senyuman Ummi yang seolah tidak percaya, dan SMS singkat dari Abi yang sedang tidak berada disana yang isinya,

“Abi sudah tahu dari awal. Abi bangga sama ayuk”

Esma, Istanbul

Posted in Beasiswa, KolomComments (19)

Beasiswa Turki: TUBITAK

Informasi penting dari TUBITAK, mereka mencabut dua jenis beasiswa yaitu 2215 Graduate Scholarship Programme for International Students dan 2235 Graduate Scholarship Programme for Least Developed Countries. Keputusan mencabut beasiswa ini dikeluarkan oleh Komite Sains TUBITAK dan tidak akan dibuka untuk para pencari beasiswa untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Bagi yang ingin mencari beasiswa Turki, bisa menelusuri lebih lanjut dengan keyword “Türkiye Scholarships”.

Sebagai informasi bagi para pemburu beasiswa Turki, TUBITAK adalah salah satu lembaga penelitian prestisius yang dimiliki pemerintah Turki. Lembaga ini memberikan beberapa jenis beasiswa untuk pelajar Turki maupun asing dengan persyaratan yang cukup ketat.

Informasi dan keterangan lebih lanjut silakan klik link berikut: TUBITAK.

Posted in BeasiswaComments (5)

Bom di Ankara, 10-10-2015

Sabtu pagi, 10 Oktober 2015, kembali terjadi teror bom bunuh diri di Ankara, Turki, yang menyasar Long March damai beberapa partai Kurdi (HDP) dan komunis-sosialis Turki. Lokasi kejadian di depan stasiun kereta Ankara. Bom yang meledak dua kali menewaskan 95 orang dan melukai 246 orang lainnya. Kelompok teroris PKK (Kurdi) kembali dituduh berada di balik aksi terorisme ini. PKK memang sering melakukan aksi terorisme, terutama menyasar aparat keamanan Turki. Teror ini juga diduga dilakukan sebagai aksi provokasi jelang pemilu ulang Turki November mendatang.

Himbauan kepada WNI yang ada di seluruh wilayah Turki dari Kedutaan Besar Indonesia di Ankara:

HIMBAUAN KEPADA WARGA NEGARA INDONESIA

Sehubungan dengan perkembangan situasi di Turki dewasa ini, KBRI Ankara menyampaikan himbauan kepada seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Turki agar :

  1. Tetap tenang dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan meningkatkan kewaspadaan dan selalu mencermati perkembangan situasi di sekitarnya melalui berbagai sarana seperti media cetak, media elektronik, dan media online;
  2. Membawa selalu tanda pengenal yang masih berlaku, seperti paspor, kartu mahasiswa, bukti identitas lainnya, dan selalu mengindahkan peraturan setempat;
  3. Bila memungkinkan mohon untuk sementara menghindari tempat/pusat keramaian;
  4. Meningkatkan komunikasi antar warga serta keamanan diri dan keluarga di kediaman serta lingkungan;
  5. Apabila ditemui permasalahan kiranya segera menghubungi KBRI Ankara atau KJRI Istanbul melalui hotline 24 jam di nomor +90 532 135 2298, +90 533 812 0760, dan +90 537 880 7439.

Demikian himbauan ini disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Ankara, 10 Oktober 2015
KBRI Ankara

Posted in NewsComments (0)

Belajar Dari Gempa Nepal

 

Oleh Herri Cahyadi[1], mahasiswa PhD Universitas Istanbul

Bencana kembali terjadi. Kali ini Nepal, negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan Cina dan India, dan memiliki gunung tertinggi di dunia, Mount Everest, harus merasakan gempa sebesar 7.8 magnitude yang berpusat di distrik Gorkha, 80 km sebelah barat-laut ibu kota, Kathmandu. Gempa yang terjadi pada 25 April 2015, pukul 11.56, ini merupakan yang terburuk selama 80 tahun terakhir yang menimpa wilayah tersebut. Keesokan harinya, 26 April, gempa susulan terjadi dengan besar 6.7 magnitude pada pukul 12.54, menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Sedikitnya 6.300 orang tewas dan korban terluka lebih dari dua kali lipatnya. Perdana Menteri Nepal, Sushil Koirala, mengatakan jumlah korban bisa jadi mencapai 10.000 jiwa. India, Cina, dan Bangladesh juga terkena dampak gempa dan menimbulkan korban jiwa. Selain memakan korban jiwa, gempa ini juga meruntuhkan 160.000 rumah dan bangunan bersejarah seperti Kathmandu Durbar Square yang termasuk ke dalam World Heritage Sites UNESCO, menara Dharahara, dan kuil Manakamana.

Sampai hari ini, seminggu setelah gempa terjadi, pemerintah Nepal dibantu oleh berbagai elemen baik lokal maupun internasional melalui National Emergency Operation Center, masih terus melakukan evakuasi korban dan memberikan bantuan tenda, obat-obatan, bahan pokok, dsb, ke para warga yang terkena dampak gempa. Bantuan pun berdatangan dari berbagai negara yang disampaikan resmi oleh pemerintah maupun NGO (organisasi nonpemerintah). Lebih dari 50 negara bahu-membahu ikut memberikan bantuan berupa uang, peralatan emergensi, personel terlatih, tim medis, hingga tim trauma healing. India merupakan negara pertama yang merespon cepat bencana ini selang beberapa jam dengan mengirimkan tentara guna mengevakuasi korban.

Indonesia tidak ketinggalan, mengirimkan bantuan senilai US$ 2 juta termasuk perlengkapan medis, makanan siap saji, selimut, tenda, kantong mayat, obat-obatan, tim rescue, dan paramedis. Misi bantuan ini juga tentu bertujuan untuk mengevakuasi 76 WNI yang berada di sana. Bantuan kemanusiaan tersebut berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan lembaga kemanusiaan. Selain dari unsur pemerintah, lembaga bantuan kemanusiaan seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Dompet Dhuafa (DD), dan Rumah Zakat (RZ) ikut mengirimkan bantuan dan personel ke Nepal. Ini belum termasuk lembaga lain yang aktif mengajak masyarakat ikut peduli membantu korban gempa Nepal.

Pemerintah Nepal pun tak lepas dari kritik terkait penanganan bencana dahsyat kali ini. Evakuasi terhadap warga yang terdampak di lokasi terpencil dan sulit dijangkau sangat lambat, bahkan ada desa yang baru mendapatkan bantuan setelah hari ke-6. Sebagai ilustrasi sulitnya medan dan minimnya sarana transportasi, lembaga kemanusiaan asal Indonesia seperti ACT, menggunakan puluhan keledai untuk mengangkut berkarung-karung bantuan yang jumlahnya tidak sedikit. Medan perbukitan dan tidak adanya transportasi membuat pemerintah dan organisasi bantuan kemanusiaan sulit menjangkau lokasi terpencil dengan cepat. Perihal lain yang menjadi kritikan terhadap pemerintah adalah kelayakan bangunan penduduk terhadap ketahanan gempa. Semenjak lama komunitas internasional telah memperingati bahwa ancaman sesungguhnya bukan datang dari gempa itu sendiri, melainkan dari tidak adanya mitigasi bencana—termasuk kualitas bangunan. Apapun kritik yang dilayangkan, fase emergensi bencana tidak akan pernah mudah untuk ditangani satu pihak (pemerintah).

Berkaca dari penanganan beberapa bencana—termasuk gempa Nepal yang baru saja terjadi—dapat diambil dua pelajaran. Pertama, dalam fase emergensi, seringkali pemerintah suatu negara tidak sanggup mengatasi sepenuhnya proses evakuasi dan penanganan korban bencana yang masif. Pemerintah membutuhkan bantuan pihak luar baik dari negara lain (state) maupun NGO internasional (nonstate actor). Sesiap apapun suatu negara menghadapi fase emergensi, pasti ada celah kekurangan yang membutuhkan bantuan. Di sinilah urgensi saling bantu yang diparadekan oleh pelbagai negara dalam setiap bencana; bahwa jika ada suatu negara mengalami hal serupa, negara lain ikut memberikan pertolongan sukarela. Indonesia pun belajar dari pengalaman Tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, gempa Padang 2009, Gunung Merapi 2010, dsb, bahwa penanganan bencana tidak mungkin tuntas di tangan pemerintah an sich. Banyak negara dan NGO luar yang membantu Indonesia mengatasi fase emergensi bahkan recovery dan mitigasi bencana tersebut. Ini membuktikan harus ada aktor lain yang turun tangan. Menjadi wajar jika pemerintah dan NGO asal Indonesia dengan sadar dan sangat sigap membantu negara lain yang mengalami hal serupa contohnya seperti badai Haiyan Filipina, badai Pam Vanuatu, dan kali ini gempa Nepal.

Kedua, meski nampak seperti hal yang pragmatis, prinsip saling bantu ini dapat memunculkan karakter filantropis sejati lintas bangsa. Sebenarnya Indonesia memiliki kearifan lokal yang sejalan dengan semangat filantropi seperti gotong royong. Ini merupakan modal diplomasi untuk menjadi bangsa yang besar. Dengan karakter filantropis yang digunakan sebagai soft power, bangsa yang besar memiliki imej positif di publik internasional. Turki, misalnya, berdasarkan laporan Global Humanitarian Assistance, pada tahun 2014 menjadi negara terbesar ke-3 di dunia yang menyumbangkan dana untuk kemanusiaan senilai US$ 1.6 milyar setelah AS dan Inggris. Nilai tersebut bahkan melebihi Jepang dan Jerman pada tahun yang sama. Donasi kemanusiaan tersebut meningkat semenjak 2012—di mana sangat berkaitan erat dengan problem pengungsi Suriah di Turki yang mencapai 1.7 jiwa. Di samping pemerintah, menjamurnya NGO kemanusiaan di Turki yang beroperasi lintas bangsa turut andil menjadikan Turki sebagai negara donor yang cukup populer. Di sini dapat diambil kesimpulan sederhana bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, karakter filantropis harus muncul ke permukaan. Oleh sebab itu, pemerintah dan organisasi nonpemerintah yang ada di Indonesia haruslah memediasi jiwa filantropi ini dan terus mengembangkannya. Juga secara aktif berpartisipasi saling bantu dalam penanganan bencana di mana saja.

Gempa Nepal menjadi momen Indonesia untuk menunjukkan kepedulian lintas bangsa. Momen saling berkompetisi menjadi negara besar dengan semangat kedermawanan. Momen Indonesia untuk belajar menghadapi fase emergensi dan mitigasi. Momen untuk saling bantu antarbangsa.

Bangsa besar tidak lagi bertanya kenapa harus membantu? Sebab pertanyaan “kenapa” sudah tuntas saat sebuah bangsa tumbuh menjadi besar. Melihat fenomena saling bantu yang tumbuh subur di Indonesia, baik dari pemerintah maupun organisasi nonpemerintah, semoga ini menjadi pertanda bahwa Indonesia sedang tumbuh menjadi bangsa yang besar; bangsa yang berjiwa filantropis.

 

Istanbul, 2 Mei 2015.

[1] Herri Cahyadi, mahasiswa PhD Hubungan Internasional, Universitas Istanbul. Menyelesaikan S1 & S2 di Universitas Indonesia selama 2004-2012. Pernah bekerja di televisi nasional dan lembaga kemanusiaan. Saat ini bermukim di Istanbul, Turki.

Sumber gambar: klik.

Posted in KolomComments (2)

Beasiswa Pemerintah Turki 2015 Akan Segara Ditutup!

Bagi kalian yang masih belum menuntaskan pendaftaran dan pengisian formulir, lebih baik disegerakan karena masa pendaftaran akan segera berakhir. Menurut informasi resmi dari panitia YTB, deadline pendaftaran adalah tanggal 31 Maret 2015. Tidak ada toleransi keterlambatan dan komunikasi apapun tidak berlaku. Untuk itu, yang belum menyelesaikan harus segera dituntaskan.

Sampaikan pula kepada teman dan keluarga yang juga ikut mendaftar beasiswa pemerintah Turki ini. Bagi yang ingin menanyakan seputar beasiswa, bisa cek ke sini.

Informasi pendaftaran dan lain sebagainya, bisa dicek di web resmi YTB: di sini.

Selamat mencoba dan semoga sukses!

Posted in BeasiswaComments (6)

Summer School di Turki

Seperti yang telah diketahui bahwa pemerintah Turki, selain memberikan peluang beasiswa untuk S1 hingga S3, juga memberikan kesempatan belajar bahasa dan budaya Turki melalui program summer course. Program singkat ini ditujukan bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk dapat belajar langsung di Turki selama tiga bulan. Program ini merupakan kerja sama antara pemerintah Turki dengan Yunus Emre Institute for foreign students. Selain belajar bahasa dan budaya, peserta summer course juga akan diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan bersejarah di Turki.

Nah, program ini akan diadakan di kota-kota selain Istanbul, Izmir, dan Ankara, seperti kota Aydın, Bolu, Bursa, Denizli, Edirne, Eskişehir, Gaziantep, Kayseri, Konya, Sakarya, Samsun dan Trabzon. Tujuannya agar peserta summer course dapat mengenali budaya dan bahasa Turki lebih intensif. Selama belajar bahasa dan budaya, peserta akan belajar dari pagi hingga siang. Kemudian sore sampai malam bisa mengikuti berbagai macam program kebudayaan langsung di masyarakat setempat. Program ini akan berakhir di Istanbul, di mana peserta summer course dari berbagai negara akan berkumpul dan mengungjungi Istanbul selama empat hari.

Biasanya waktu pembukaan summer course di bulan April-Mei atau setelah pembukaan pendaftaran beasiswa S1-S3. Program ini akan dimulai pada bulan Juli hingga Agustus-September.

Lalu apa yang akan didapatkan oleh peserta summer course? Di antara uang saku 500 TL, akomodasi gratis, makan pagi dan malam, asuransi kesehatan, dan aktivitas sosial-budaya selama di Turki. Sayangnya, transportasi PP dan domestik tidak ditanggung oleh penyelenggara program alias bayar sendiri.

Apa saja persyaratan dan dokumen yang dibutuhkan? Berikut penjelasannya:

Application Requirements

a) Being a citizen of any country other than the Republic of Turkey (the candidates who have citizenship of the Republic of Turkey and also those who lost Turkish citizenship for any reason cannot apply for the Turkish Language Summer School 2014 Program)

b) Being a student at Yunus Emre Turkish Culture Centers or being a student in a university outside Turkey.

a) Being between the age 18 and 27.

b) For university students having at least 70% weighted grade point average and a proof of Turkish language skills.

c) For Yunus Emre Turkish Culture Center students having at least A1 Level Turkish Certificate.

d) Those who received Turkish summer school in the previous years cannot apply the Summer School.

e) Those who has completed any level of his/her education in Turkey cannot apply the Summer School

Required Documents

1 – Student Certificate taken from the university or Turkish Certificate taken from Yunus Emre Turkish Culture Centers.

2 – Copy of a valid identity certificate

3 – 1 photo

4- Transcript for university students.

Posted in BeasiswaComments (111)

Pembukaan Beasiswa Pemerintah Turki 2015

Banyak yang menantikan dibukanya pendaftaran online beasiswa YTB Pemerintah Turki 2015. Menurut informasi resmi dari page Facebook YTB, pembukaan akan dilakukan pada bulan Februari 2015 serentak untuk jenjang S1, S2, dan S3. Namun, hingga tanggal 7 Februari, pendaftaran masih belum dibuka. Ini membuat para calon pendaftar bertanya-tanya ada apa gerangan?

Biasanya pembukaan pendaftaran dilakukan di awal bulan dan ditutup akhir bulan atau 30 hari masa pendaftaran, seperti tahun-tahun sebelumnya. Diumumkan secara resmi pada website YTB. Website ini merupakan satu-satunya media resmi untuk pendaftaran beasiswa. Ada baiknya terus memantau informasi terbaru dari website.

Sebagai informasi, website YTB pada dasarnya berbahasa Turki. Namun, ada juga pilihan bahasa Inggris di pojok kanan atas (ikon bendera Inggris). Ini untuk memudahkan calon pendaftar yang tidak mengerti bahasa Turki. Setelah pendaftaran dibuka, calon pendaftar beasiswa harus membuat akun (sign up) terlebih dahulu. Pastikan data yang diisi sesuai dan benar. Seputar pertanyaan beasiswa ini, silakan ke artikel berikut:

Yang Sering Ditanyakan Terkait Beasiswa Pemerintah Turki (YTB)

Posted in BeasiswaComments (24)

Kemudahan Aplikasi Beasiswa Pemerintah Turki (YTB)

Pemerintah Turki terus meningkatkan peluang beasiswa bagi mahasiswa asing yang ingin belajar di Turki. Peningkatan ini nampak dari semakin meningkatnya jumlah penerima beasiswa dari tahun ke tahun, makin banyaknya jurusan dan kampus yang dibuka, dan makin besarnya fasilitas yang diterima. Proses penerimaan beasiswa juga semakin baik. Meski demikian, pemerintah Turki tidak mempersulit proses aplikasi beasiswa dengan segala macam persyaratan. Bisa dibilang cukup memudahkan bagi calon penerima beasiswa.

Apa saja kemudahan dari beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Turki? Berikut kami coba list kemudahan-kemudahan yang bisa didapatkan.

  1. Tidak ada biaya pendaftaran.
  2. Proses aplikasi yang mudah hanya melalui internet. Semua secara online.
  3. Tidak butuh test, hanya upload dokumen.
  4. Alur proses yang mudah: upload dokumen – interview – pengumuman.
  5. TOEFL/IELTS tidak menjadi syarat mutlak (hanya beberapa kampus yang membutuhkan).
  6. Hasil test GRE, GMAT, dsb juga tidak jadi syarat mutlak (hanya beberapa kampus yang membutuhkan).
  7. Dokumen yang dibutuhkan tidak sulit, yang penting lengkap sesuai yang diminta.
  8. Pengurusan visa cukup cepat, dibantu oleh kedutaan.
  9. Bisa menggunakan SKL (Surat Keterangan Lulus) bagi yang belum memiliki ijasah.
  10. Semua informasi dikabari langsung menggunakan e-mail.

Ini berdasarkan pengalaman kami. Sebaiknya dilengkapi semua dokumen dan diisi dengan baik. Yang pintar atau lengkap belum tentu lolos, yang menarik dalam letter of intent bisa jadi lolos. Yang dokumen seadanya bahkan bisa jadi lolos. Mungkin ada pertimbangan lain dari panitia mengenai bagaimana bisa lolos dari beasiswa ini, seperti asal daerah, asal kampus, prestasi akademik, pengalaman luar negeri, dsb. Selamat mencoba!

Posted in BeasiswaComments (16)